Awal mula terbentuknya TERJAL bermula dari tahun 2011an sekelompok anak rantau yang tinggal di Surabaya. Mereka sering berkumpul di markas latihan ranting Kenjeran dan juga di markas Kremil Surabaya. Dari kebiasaan berkumpul tersebut, akhirnya terbentuklah kelompok bernama Ashter Kenjeran, namun hanya bertahan sekitar satu bulan. Setelah berdiskusi, nama tersebut kemudian diubah menjadi Terate Jalanan (TERJAL).
Dalam perjalanannya, muncul banyak tantangan, terutama dari para senior Cabang Surabaya. Kelompok ini kemudian membuat spanduk dengan logo TERJAL dan mulai berinteraksi dengan banyak saudara dari luar kota. Mereka sering diundang berkumpul di markas saudara-saudara di Kremil. Dari sana muncul berbagai panggilan khas, seperti “Pasukan Kremil” yang disingkat Pasker. Kenjeran pun tidak ingin kalah dan akhirnya memperkuat identitas mereka melalui nama Terate Jalanan.
Pada masa itu, karena sering beraktivitas di luar menggunakan atribut, sering terjadi benturan atau perselisihan. Hal tersebut mendorong kelompok ini untuk melindungi nama organisasi tanpa melibatkan organisasi langsung. Dari sinilah Mas Tony, Mas Manol, Mas Eko Sinyo, dan Mas Robert menyepakati penyederhanaan nama Terate Jalanan menjadi TERJAL demi menjaga nama baik organisasi.
Banyak tantangan muncul dari cabang karena disangka membentuk organisasi baru. Kelompok ini pun berusaha meyakinkan cabang bahwa TERJAL bukan organisasi terpisah, melainkan komunitas yang terbentuk untuk menjaga dan melindungi nama baik organisasi. Seiring waktu, cabang tidak lagi mempermasalahkan keberadaan mereka, dan komunitas TERJAL tetap berjalan sebagaimana adanya.
Tidak hanya Kenjeran, wilayah Kremil seperti Mas Pedet, Mas Brodin, Mas Roni, dan Mas Yono (dari Pasker) juga memiliki inisiatif untuk ikut membentuk TERJAL. Akhirnya, Kenjeran dan Kremil berlomba-lomba membuat spanduk pertama. Spanduk pertama dibuat di markas Kenjeran, Jl. Lebak Timur Gang 1, dan spanduk kedua dibuat di markas Kremil. Sekitar dua minggu waktu diperlukan untuk menyelesaikan spanduk-spanduk tersebut, masing-masing dengan ciri khas wilayahnya.
Seiring berjalannya waktu, Kenjeran membuat desain logo dengan identitas khas sendiri. Nama TERJAL tetap diambil dari “Terate Jalanan”, karena dulunya kelompok ini selalu mengekspresikan loyalitas dan menjalin persaudaraan di jalanan sambil menjaga nama baik organisasi melalui komunitas.
1. Ruyung Berantai
Melambangkan rantai persaudaraan yang tidak boleh terputus hingga akhir hayat.
2. “Tasih Bingung Marang Setine Urip”
Menggambarkan masa ketika mereka masih mencari arah hidup, belum memahami tujuan hidup yang sesungguhnya. Yang dipikirkan saat itu hanyalah mencari kesenangan dan kebersamaan dalam persaudaraan.
“Kami dulu berada pada fase belum menemukan pemahaman mengenai tujuan hidup, apa yang penting, dan apa yang harus dilakukan. Karena itu kami selalu berkumpul untuk menjalin persaudaraan yang erat.”
3. Pedang Berdarah
Melambangkan bahwa setiap tindakan tegas selalu memiliki konsekuensi. Baik atau buruk, setiap orang harus siap bertanggung jawab dan berani menghadapi risiko. Pedang yang tajam juga mengingatkan agar kita tajam dalam menilai dan menentukan tindakan.
4. Raja Tega
Mengandung makna keberanian untuk bertindak tegas dalam menghadapi masalah, tanpa memandang siapa yang melakukan kesalahan.
5. Benang Merah
Benang merah pada pundak dan lengan merupakan ciri khas identitas TERJAL Kenjeran agar mudah dikenali sebagai desain tersendiri.
Seiring waktu, semakin banyak saudara dari luar kota yang penasaran dengan apa itu TERJAL. Banyak yang bergabung setelah memahami bahwa misi TERJAL adalah melindungi organisasi. Di wilayah Sidoarjo (POCAN), Mas Naryo, Mbak Vivin, dan Bang Udeng juga meminta izin untuk membentuk TERJAL Pinggiran.
Akhirnya, TERJAL Kenjeran resmi dibentuk dan disepakati bersama di Surabaya, Lebak Timur 8A, Kenjeran, pada hari Sabtu, 28 Januari 2012. Meskipun demikian, TERJAL tetap memegang dan menerapkan nilai-nilai Budi Luhur PSHT. Anggota TERJAL pada awalnya diwajibkan merupakan warga PSHT. TERJAL didirikan untuk melindungi organisasi PSHT, dan setelahnya TERJAL berjalan sebagai komunitas yang tidak terikat secara struktural dengan organisasi PSHT.